Waktu makan siang hampir habis. Piring-piring di meja sudah tak lagi penuh. Gelas minum tinggal menyisakan embun tipis. Alan masih terlelap di stroller , dadanya naik turun teratur, tak tahu bahwa dua orang dewasa di hadapannya sedang menimbang keputusan-keputusan yang akan menentukan arah hidupnya. Bram memandang cangkir kopinya cukup lama. Kopi itu sudah dingin, tapi ia belum menyentuhnya lagi sejak beberapa menit lalu. Seolah ia sedang menunggu keberanian yang tak biasa ia butuhkan. Alea memperhatikannya dari balik sudut mata. Ia mengenal jeda itu—jeda ketika Bram ingin bicara sesuatu yang tidak mudah baginya. “Alea,” suara Bram akhirnya terdengar. Rendah. Sangat berhati-hati. “Sebelum kamu dan Alan pergi ke Yogyakarta … bolehkah aku minta sesuatu padamu?” Alea langsung mengan

