Bab 134. Herman Ingin Tahu

2234 Words

Keesokan hari Pagi itu datang dengan cahaya yang lembut, menyelinap masuk lewat celah tirai kamar hotel. Udara terasa lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya, meski beban di d**a para penghuninya belum sepenuhnya pergi. Di dalam suite yang tenang itu, Bram duduk di sofa dekat jendela. Baby Alan berada dalam gendongannya, tubuh mungil itu hangat dan ringan, seolah seluruh dunia bisa dikecilkan hanya menjadi dua lengan seorang ayah. Bram menimang perlahan, gerakannya hati-hati—takut salah, takut terlalu kasar, takut melukai bahu kecil yang masih dalam masa pemulihan. “Hei, jagoan Papa,” gumam Bram pelan, suaranya rendah dan datar, tapi mengandung kelembutan yang jarang ia perlihatkan. “Pagi-pagi sudah bangun ya. Mau ngobrol sama Papa?” Alan menjawab dengan ocehan tidak jelas. Bibir m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD