Kembali ke kediaman orang tua Rere .... Telepon itu berdering cukup lama sebelum akhirnya tersambung. Rere duduk di tepi ranjang kamarnya, punggungnya tegak namun jemarinya mencengkeram ponsel terlalu kuat—seolah kalau ia melepas sedikit saja, dunianya akan runtuh. “Halo? Re?” suara di seberang terdengar ceria, nyaris riang. “Ya ampun, akhirnya kamu nelpon juga!” Itu suara Tyas. Hangat. Akrab. Sama seperti dulu—saat Rere masih menjadi istri Bram yang dielu-elukan, perempuan yang selalu duduk di barisan depan setiap acara sosialita, dengan tas mahal menggantung di lengannya dan senyum percaya diri di wajahnya. Rere menutup mata sesaat sebelum menjawab. Ia harus mengatur napasnya. Ia butuh Tyas. “Iya, Tyas,” ucapnya akhirnya, dibuat selembut mungkin. “Aku baru bisa pegang ponsel lagi.”

