Bab 55. Tidak Bisa Berpura–pura

2030 Words

Keesokan pagi, di mansion itu terasa lebih tenang daripada biasanya. Cahaya matahari menembus tirai ruang makan, memantul pada lantai marmer yang dingin, memberi kesan hangat namun tetap elegan. Alea turun dari lantai dua sambil mengikat rambutnya ke belakang. Baby Alan sedang anteng di ayunan bayi yang digoyang perlahan oleh Ida. Kesempatan langka. Alea memutuskan memanfaatkannya. “Mbak Ida, kalau Alan rewel … panggil aku ya,” kata Alea. “Iya, Mbak Alea. Santai aja, dia lagi anteng banget.” Alea tersenyum kecil. “Syukurlah.” Ia bergegas ke dapur, berniat membantu Bik Tini dan Umi menyiapkan sarapan. Meski di rumah besar seperti ini ia tidak diwajibkan apa pun, tangannya gatal kalau tidak ikut bergerak. Saat ia masuk, aroma tumisan bawang bercampur roti panggang menyambutnya.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD