Umi melangkah pelan menaiki tangga menuju lantai dua. Detak jantungnya belum sepenuhnya kembali normal. Adegan tubuh Prita tergeletak di jalan masih membekas jelas di benaknya, membuat langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Begitu tiba di depan kamar baby Alan, Umi menarik napas dalam sebelum mengetuk pelan. Pintu dibuka oleh Ida yang sejak tadi mondar-mandir gelisah. “Umi,” sapa Ida cepat. Matanya langsung menyapu wajah Umi, mencari jawaban. “Gimana? Udah selesai belum? Ribut-ribut di bawah itu apa?” Nada suaranya jelas kepo, tapi juga dilapisi kecemasan. Di dalam kamar, Alea duduk di tepi ranjang sambil memegang sepotong roti tawar. Alan tertidur kembali di boksnya. Alea berhenti mengunyah begitu melihat Umi masuk. Tatapannya langsung tajam, penuh tanya. “Pak Bram belum naik,

