Suasana di ruang VIP itu seakan membeku. Udara terasa berat, menekan d**a siapa pun yang berada di dalamnya. Tangisan seorang ibu belum benar-benar reda, dan luka-luka lama kini terbuka satu per satu, tanpa sisa penyangga. Bram masih menunduk. Sejak tadi ia tidak berani mengangkat wajahnya. Pandangannya tertuju pada lantai, seolah di sanalah seluruh kesalahan dan dosanya tertulis jelas. Bahunya kaku, rahangnya mengeras, napasnya tertahan—bukan karena marah, melainkan karena takut menghadapi kebenaran yang sebentar lagi harus ia ucapkan. Bu Shinta berdiri di sisi ranjang Alea. Tangannya masih memeluk putrinya, tapi tatapannya kini tertuju lurus ke arah Bram. “Apa kamu masih ingin menyakiti Alea, Bram?” suaranya merendah, nyaris berbisik. Namun justru karena rendah itulah, kata-kata itu

