Bab 110. Anak Ibu Salah Apa, Bram?

1314 Words

Di ruang VIP itu, udara terasa berat oleh emosi yang bertumpuk. Tangisan Alea perlahan mereda, berubah menjadi isak kecil yang tertahan di d**a. Tubuhnya masih gemetar, bukan hanya karena sakit, tapi karena kelegaan—kelegaan yang hanya muncul ketika seorang anak akhirnya berada di pelukan ibunya. Bu Shinta mengusap pipi Alea dengan kedua tangannya, ibu jari menyapu sisa air mata yang masih menggantung di bulu mata putrinya. Sentuhannya hangat, penuh kasih yang tidak berubah sedikit pun meski waktu dan luka silih berganti. “Ibu sudah di sini, Nak,” ucapnya lirih, suaranya bergetar namun tegas. “Kamu nggak sendirian lagi.” Alea mengangguk kecil, tenggorokannya tercekat. Ia ingin mengatakan banyak hal—tentang sakit, tentang takut, tentang Alan—namun semua kata itu runtuh di balik pelukan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD