Bab 152. Alan Masih Butuh Papanya

2106 Words

Lorong IGD berubah menjadi jalur cepat yang dipenuhi langkah tergesa. Pintu kembali terbuka. Brankar Bram didorong dengan kecepatan penuh. Roda besi berderit, sepatu para medis beradu lantai, suara instruksi bersahut-sahutan. Lampu-lampu neon di atas kepala melintas cepat, memanjang seperti garis putih yang tak sempat diingat satu per satu. “Tekanan darahnya semakin drop!” “Siapkan ruang operasi sekarang!” “Pastikan jalur infus aman!” Rian mengikuti dari belakang, napasnya tersengal. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai terasa di pelipis. Tangannya gemetar—bukan karena dingin, tapi karena takut yang tidak lagi bisa ia kendalikan. Setiap langkah terasa berat, seperti lantai menolak kakinya maju. Pintu lift khusus pasien terbuka. “Masuk!” seru seorang perawat. Brankar didorong

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD