Pintu ruang kerja itu akhirnya terbuka lebar. Dua aparat kepolisian menggiring Rere keluar dengan langkah pelan namun pasti. Mereka berhati-hati, satu tangan siaga menopang lengan Rere, satu lagi bersiap jika perempuan itu kembali meronta. Tongkat sikunya diserahkan pada salah satu petugas. Wajah Rere memerah, napasnya tersengal, bukan karena sakit—melainkan amarah yang tak tertampung. “Kalian tidak berhak!” teriaknya serak. “Aku istri sahnya! Semua ini milikku!” Bram berdiri di ambang pintu ruang kerja, punggungnya tegak, wajahnya dingin seperti marmer. Tatapannya tidak mengikuti langkah Rere. Ia menatap lurus ke depan, seolah perempuan yang sedang diseret itu tak lebih dari bayangan masa lalu. “Dasar laki-laki kejam!” sumpah serapah Rere kembali meluncur. “Kamu akan menuai akibatnya,

