Masih di waktu yang sama, pagi itu, cahaya matahari menyelinap masuk lewat celah tirai suite hotel, memantul di lantai marmer yang dingin. Suasana terasa sedikit lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya, namun tetap menyisakan ketegangan yang menggantung—seperti benang halus yang bisa putus kapan saja. Di sudut kamar, Ira sudah berdiri di depan cermin, memastikan ransel kecilnya tertutup rapat. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya tampak lelah namun matanya jernih. Ia sudah siap pulang. Perjalanan singkat ke Jakarta yang awalnya hanya berniat menemani sahabat, berubah menjadi saksi dari begitu banyak luka dan rahasia. Di ranjang, Alea duduk sambil menggendong Alan yang sudah selesai menyusu. Wajahnya tenang, namun sorot matanya waspada—sebuah ketegaran yang lahir dari terlalu banyak k

