Bab 162. Datang Dengan Cinta Yang Utuh

1659 Words

Langkah Bu Shinta terhenti tepat di batas tanah yang dulu adalah halaman rumahnya. Tubuh perempuan itu bergetar hebat. Bukan karena angin, bukan karena lelah—melainkan karena kenyataan yang kini berdiri telanjang di hadapannya. Tanah yang menghitam. Sisa pondasi yang retak. Bau samar kayu hangus yang masih tertinggal meski hari-hari telah berlalu. Rumah itu— Rumah yang dibangun bersama almarhum suaminya. Rumah tempat Alea tumbuh, tertawa, menangis. Rumah yang menyimpan doa-doa subuh dan air mata malam—tidak tersisa. Alea langsung merangkul bahu ibunya. Tangannya menguat, melingkar erat, seolah menjadi penopang satu-satunya agar tubuh itu tidak runtuh saat ini juga. Ia merasakan bahu Bu Shinta yang naik turun cepat, napas yang tidak teratur, dan tangan yang dingin. Di belakang mereka,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD