Beberapa hari telah berlalu. Pagi itu Yogyakarta seperti ikut bersiap menyambut sebuah awal baru. Langit biru membentang bersih tanpa awan, matahari bersinar hangat namun tidak terik, angin berembus pelan membawa aroma bunga dan tanah basah sisa embun. Hari Sabtu—hari yang terasa tepat untuk menyatukan kembali dua hati yang pernah terpisah oleh luka, ego, dan takdir yang berliku. Di salah satu kamar hotel, Alea berdiri di depan cermin besar. Ia hampir tidak mengenali bayangan dirinya sendiri. Kebaya putih membalut tubuhnya dengan anggun—sederhana, tanpa payet berlebihan, tapi justru memancarkan kesucian dan ketenangan. Kain jarik bermotif klasik Yogyakarta melilit pinggangnya dengan pas. Rambutnya disanggul rapi, khas adat Jawa, memperlihatkan lekuk leher dan bahu yang lembut. Wajahny

