ICU — RUMAH SAKIT Lampu-lampu di ruang ICU redup, hanya mesin-mesin medis yang menyala dengan bunyi ritmis—monitor jantung, ventilator, alarm kecil yang sesekali berbunyi lembut. Aroma antiseptik menusuk hidung, dingin, steril, dan sunyi. Di balik kaca pembatas, tubuh Rere terbaring tak bergerak. Wajahnya pucat, bibirnya kering, rambutnya disisir rapi oleh perawat. Selang dan kabel menempel di tubuhnya seperti pengikat antara hidup dan mati. Di sudut ruangan, berdiri seorang pria. Ia mengenakan jaket gelap, topi ditarik rendah, dan masker medis menutupi separuh wajahnya. Namun matanya—mata itu tidak bisa menyembunyikan apa pun. Berkaca-kaca. Merah. Penuh emosi yang ditekan terlalu lama. Tangannya menempel di kaca. “Bangunlah, Sayang,” suaranya serak, nyaris tak terdengar, tapi penuh te

