Malam turun perlahan di atas mansion Bram, membawa hawa dingin yang menyusup lewat celah-celah jendela besar. Lampu-lampu kristal di ruang makan menyala temaram, memantulkan kilau tenang yang kontras dengan suasana di lantai dua. Di kamar baby Alan, suasana jauh berbeda. Tangisan kecil itu pecah lagi—pelan tapi menusuk. Suara serak bayi yang belum genap dua bulan, bercampur napas terengah karena rasa tidak nyaman setelah imunisasi siang tadi. Alea menggendong Alan dengan posisi tegak di dadanya, satu tangan menopang kepala kecil itu, tangan lain mengusap punggungnya perlahan, berirama. Di meja kecil dekat boks bayi, botol obat penurun panas yang diresepkan dokter masih terbuka, sendok takarnya diletakkan rapi. “Sudah ya, Sayang … sudah diminum obatnya,” bisik Alea, suaranya rendah dan

