Bab 76. Perdebatan Antar Besan

1259 Words

Di ruang rawat rumah sakit itu, aroma antiseptik bercampur samar dengan bau makanan hangat yang baru saja habis disantap. Bude Laksmi merapikan tisu di pangkuannya setelah menyuapi Rere beberapa sendok terakhir bubur. Gerakannya pelan, teratur, tapi raut wajahnya tidak sepenuhnya tenang. Ada sesuatu yang mengganjal—sejak tadi pagi—dan semakin lama, semakin menumpuk di dadanya. Rere kini bersandar dengan bantal ditinggikan, matanya setengah terpejam, napasnya masih pendek-pendek. Meski sudah sadar, tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Namun satu hal jelas: ia sudah cukup kuat untuk berpikir, untuk merasa, dan untuk bertanya. “Bu,” suara Rere pelan, serak. “Mas Bram jadinya ke sini jam berapa?” Bude Laksmi tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. “Katanya habis urusan kantornya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD