Bab 77. Bram Yang Dingin

1168 Words

Jam di lorong rumah sakit menunjukkan 15.05 ketika langkah Bram akhirnya berhenti di depan ruang observasi tempat Rere dirawat. Koridor itu dingin, beraroma antiseptik, dengan suara langkah kaki perawat yang hilir mudik dan bunyi monitor yang samar terdengar dari balik pintu-pintu kaca. Jas Bram masih rapi, kancingnya tertutup sempurna. Tidak ada tanda tergesa, tidak ada raut bersalah—hanya wajah datar yang seperti selalu ia pakai setiap kali harus menghadapi sesuatu yang tak lagi ia rasakan dengan hati. Ia datang sendiri. Rian tidak ikut. Asistennya itu menggantikan satu pertemuan dengan relasi luar negeri yang tak bisa ditunda. Bram memilih datang ke rumah sakit sendirian—dan itu keputusan yang ia ambil dengan sadar. Begitu pintu ruang observasi dibuka, pemandangan di dalam langsung

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD