Jika di mansion Bram suasana masih berdenyut oleh ketegangan dan sisa kekacauan, maka rumah sakit—ironisnya—tampak tenang di siang hari itu. Koridor panjang berlantai putih mengilap, bau antiseptik tipis, suara langkah kaki perawat yang teratur. Di balik ketenangan itu, ada rahasia yang bergerak pelan, nyaris tak terdengar, tapi siap meledak kapan saja. Rere terbaring di ruang rawat kelas 1, nomor 112. Tubuhnya masih terasa lemas, tapi pikirannya jernih. Tidak ada Eka. Tidak ada Bude Laksmi. Ia tahu mereka pergi—ia mendengar percakapan singkat sebelum mereka pamit tergesa—tapi ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak tahu tentang tangisan bayi. Tidak tahu tentang darah di tangga. Tidak tahu bahwa dunia di luar kamar ini telah berubah arah. Rere hanya tahu satu hal: ia sendirian

