Bab 100. Maafin Mama, Nak

1127 Words

Ambulans itu akhirnya berhenti tepat di depan pintu IGD rumah sakit yang sama—rumah sakit tempat Rere dirawat. Pintu belakang dibuka cepat. Lampu-lampu putih menyilaukan menyambut. Suara roda brankar beradu dengan lantai, langkah paramedis terdengar sigap namun terkendali. Tidak ada kepanikan yang berlebihan—hanya kecepatan yang terlatih. “Hati-hati … jaga kepala pasien,” perintah salah satu paramedis. Alea dipindahkan lebih dulu. Tubuhnya diangkat dengan hati-hati, leher distabilkan, kepala ditopang. Wajahnya pucat, darah kering masih tampak di pelipisnya, berkontras dengan kulitnya yang kini dingin. Meski begitu, alisnya berkerut—tanda nyeri yang belum pergi. Di brankar sebelah, Alan dibaringkan. Tubuh kecil itu tampak terlalu sunyi. Tangisnya yang tadi memecah rumah kini bergant

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD