Ruang baca itu mendadak terasa lebih sempit. Kata-kata Mama Linda menggantung di udara, menekan d**a, menusuk seperti jarum yang tidak terlihat. “Berarti Alan bukan anakmu?” tanyanya lagi, lebih pelan, seolah memberi Bram satu kesempatan terakhir untuk bernapas sebelum dunia benar-benar runtuh. Bram tidak segera menjawab. Ia menunduk. Bahunya yang biasanya tegap kini sedikit jatuh. Ada beban berat yang belum pernah ia ucapkan pada siapa pun, beban yang selama ini ia simpan rapat di balik wajah dingin dan keputusan-keputusan keras. Jarinya mengepal di atas lutut. Mama Linda menghela napas panjang. Ia bangkit setengah berdiri, lalu berkata dengan suara tegas, terkontrol, namun sarat empati, “Kalau begitu, biar keluarga Bu Laksmi saja yang mengurus Alan. Buat apa kita repot-repot mengurus

