Ruang kunjungan di kantor polisi itu terasa dingin, meski lampu neon menyala terang. Dindingnya kusam, kursi-kursi plastik berderet rapi, dan bau logam bercampur cairan pembersih menusuk hidung. Setelah pertemuan singkat dan penuh keluhan dari Eka—yang tak henti menuntut dibebaskan, menyalahkan Alea, dan mengasihani diri sendiri—akhirnya waktu kunjungan usai. Petugas memberi isyarat halus agar mereka beranjak. Rere bangkit lebih dulu. Ia merapikan rambutnya, mengatur napas, lalu mengikuti ibunya keluar. Di lorong, langkah Bude Laksmi cepat, wajahnya tegang. Ia tampak lelah—bukan karena fisik semata, melainkan karena pikiran yang terus berputar. Di dekat pintu keluar, Bude Laksmi berhenti, membuka tas, lalu menyodorkan beberapa lembar uang. “Ini uang yang kamu minta,” katanya ketus. “Sa

