Bab 155. Papa Bangun, Ini Alan

2061 Words

Jam dinding di lorong ICU menunjukkan 17.00 tepat. Waktu besuk. Biasanya, pada jam inilah Alea berdiri di depan kaca ICU—menatap Bram dari balik sekat transparan, berbicara pelan meski tahu ia tak mendapat jawaban. Biasanya, ia menahan rindu itu sendirian, sementara Alan tertidur di pelukan Ida atau di boks bayi ruang rawat Mama Linda. Namun sore itu berbeda. Alea berdiri di depan ruang dokter ICU, menggendong Alan. Bayi itu terjaga. Matanya bening. Tangannya bergerak pelan, sesekali meraih udara. Seolah ia tahu sedang dibawa ke tempat yang bukan sembarang tempat—tempat di mana detak mesin lebih keras daripada suara manusia. Alea menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu. “Silakan,” suara dokter terdengar dari dalam. Alea masuk dengan langkah hati-hati. Dokter jaga ICU menoleh,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD