“Pak, sudah ditunggu.” Firman mengetuk pintu ruang atasannya yang tidak tertutup rapat itu. Elan lalu mengangguk sambil melepas kacamata bacanya, lalu beranjak untuk memakai jas dan membawa tabletnya. Firman mengekor di belakang sang atasan. “Semua sudah di ruangan, Firman?” “Sudah, Pak. Hanya menunggu Bapak.” Elan mengangguk dengan ekspresi kaku khasnya. Begitu dia masuk ke ruang meeting, semua orang langsung berdiri dan mengangguk sopan sambil tersenyum menyambutnya, namun Elan tetap bersikap tak acuh. Berjalan lurus dengan tatapan yang dingin menuju ke kursinya. Tidak peduli juga tidak ingin membalas dengan ramah tamah yang ditunjukkan oleh para karyawannya, seperti itulah sosoknya dikenal selama ini. Lucyana yang memberikan perhatian sejak kedatangan pria pujaannya

