Pria itu mematikan cerutunya dengan menekan kuat puntungnya ke asbak. Helaan napasnya terdengar berat dengan wajah yang terlihat penuh beban. “Bajingannn! Kenapa seperti tidak ada penyelesaian?! Kenapa perusahaan ini seperti mendapat kutukan bertubi-tubi?! Bangsattt!” Tinjunya melayang di meja kerja yang telah menjadi saksi bisu perjalanannya menggerakkan perusahaan selama hampir tiga puluh tahun ini. Pria itu menatap langit sore kota Jakarta dengan mata yang memerah sebab kelelahan. Erangannya terdengar begitu frustrasi seolah nyawanya memang di ujung tanduk. Kenyataannya, memang nyawa perusahaannya sedang di ujung tanduk. Jasnya masih tergantung di hanger yang terletak di sisi kiri ruangannya. Meja di depannya penuh kertas laporan keuangan, print email, juga catatan rapat y

