Bab 114 | Keadaannya

2620 Words

Rahang pria itu mengetat sempurna, dengan bibir yang perlahan tertawa, menertawakan kebodohannya sendiri yang bisa-bisanya terperdaya oleh seorang wanita. Elan menyugar rambutnya frustrasi sambil menatap pada langit-langit kamar dengan tawa sarkas yang keluar dari bibirnya. Pria itu pada akhirnya memutuskan untuk pulang ke salah satu apartemennya yang sudah lama tidak dia tempati setelah menyetir tanpa arah di jalanan ibu kota yang selalu padat merayap. Dia baru memutuskan untuk pulang ke apartemen yang terdekat dengan lokasinya saat waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Matanya sudah memerah dan terlihat tidak baik-baik saja, entah memerah karena kelelahan, menahan kantuk atau menahan emosi yang hingga detik itu masih begitu kental menyelimuti hatinya. Semuanya bercampur

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD