“Oh, sialannn!” Pria itu mengumpat pelan sambil menautkan kedua tangannya di atas meja yang sudah berkeringat dingin. Helaan napasnya terdengar panjang sebab rasa gugup juga gelisah yang melanda. “Seumur hidup tidak pernah aku merasa segugup ini berhadapan dengan orang lain, padahal selama ini aku yang selalu memegang kendali. Sialannn! Aku membenci perasaan tidak berdaya ini,” gumamnya lagi sambil mengusap tengkuknya yang meremang. Dewangga terus menatap ke arah pintu dengan tatapan yang cemas namun juga mengandung harap menunggu kedatangan tamu agungnya hari ini. Elan Devanaka Alastair kemarin menghubunginya. Pria itu menghubunginya sendiri, bukan melalui email, namun melalui panggilan telepon. Dan tentu saja Dewangga merasa sangat bahagia, seolah hidupnya yang sedang sekarat

