Ayuna memukul pelan d**a Elan, namun pria itu hanya mendelik tajam dengan isyarat melalui tatapan matanya agar Ayuna tidak macam-macam. "Jangan banyak bergerak, Ayuna. Kamu bisa jatuh!" Elan akhirnya bersuara karena wanita itu benar-benar keras kepala sebab terus meronta dalam gendongannya. “Makanya turunkan saya, Pak! Saya tidak mau dimandikan, Pak. Turunkan. Saya bisa mandi sendiri! Pak Elan!” Ayuna mengerang sambil meronta untuk berusaha turun dari gendongan pria itu. “Saya memudahkan kesulitan kamu, Ayuna. Diam!” Elan membuka pintu kamar mandi dengan menendangnya sedikit kuat, pria itu lalu menurunkan Ayuna perlahan dan mendudukkannya di atas wastafel. Wastafel itu memiliki desain memanjang, hampir memenuhi seluruh sisi dinding, bukan sekedar tempat mencuci muka atau sikat g

