Tidak jauh berbeda dengan sebagian orang yang sama-sama terkejut menerima undangan tersebut, Arseno juga duduk terpekur di tempatnya sambil menggenggam erat-erat undangan itu dengan tangan yang gemetar. Bibirnya tertawa namun air matanya jatuh berlinang dengan wajah yang merana. “Ayuna … Kamu … mengkhianatiku? Bagaimana mungkin kamu berkhianat? Kamu sedang membalas sakit hati yang kamu rasakan dengan membuat drama ini, kan? Kamu? Menikah dengan Elan Alastair? Hahahaha. Ayuna ... kamu sama frustrasinya dengan kehancuran hubungan kita, kan? Hingga kamu mengirim undangan bodoh ini?” Arseno tertawa keras. Keras sekali seiring dengan tangisnya yang juga semakin menggelegak di dadaa. Dia memukul-mukul undangan itu ke meja kerja dengan bibir yang terus meracau seperti orang gila. “Ini t

