Pagi itu Ayuna terjaga lebih dulu. Akhirnya bisa kembali bangun seperti manusia normal pada umumnya, bukan lagi terbangun dari tidur panjang yang tidak memiliki kepastian kapan dia bisa bangun, dan Ayuna langsung bersyukur begitu membuka mata pagi ini. Netranya refleks berpendar mencari keberadaan sang suami. Bibirnya sudah refleks akan memanggil suaminya, namun saat kepalanya menoleh ke sisi kiri dan mendapati wajah lelap sang suami membuat Ayuna langsung mengatupkan bibirnya rapat. Pria itu masih terlihat begitu lelap di sofa bed, wajahnya yang damai membuat Ayuna urung untuk membangunkan meski dia merasa sangat haus dan butuh bantuan untuk diambilkan minum. ‘Nanti sajalah, paling sebentar lagi Mas Elan bangun,’ batin Ayuna sambil menelan ludah dengan tenggorokan yang terasa ker

