Tangisan bayi di malam yang telah hening sepenuhnya itu menjadi alarm alami untuk mereka yang kini telah menjadi orang tua dan langsung sama-sama terjaga. Elan dan Ayuna saling melempar tatap lalu mengulum senyum singkat, sebelum akhirnya Elan beranjak lebih dulu, mengambil Ayash yang menangis lalu menimang-nimangnya dengan lembut sambil berbisik lirih untuk menenangkan. “Sshh … Iya, Nak … sebentar, ya? Waktunya nen, iya? Ayash sudah lapar, ya, Nak? Sabar dulu, Mama datang sebentar lagi, Jagoan.” Elan mengecup lembut ubun-ubun Ayash dan membawanya sedikit menjauh dari box bayi sambil terus menimang-nimang. Ayuna langsung mendekat dengan wajah mengantuknya, mengikat rambutnya jadi satu ke atas lalu mengambil alih Ayash dari gendongan suaminya. Saat tatapan mereka kembali bertemu,

