Kecupan itu mendarat sempurna di pipi wanita tercintanya yang terlihat tengah berbahagia dengan bibir yang bersenandung lirih. “Papa!” Rayya langsung memutar bola matanya dengan tatapan pura-pura kesal karena sang suami yang mencuri ciumannya. “Malu dengan umur, Pa!” Rayyan justru tertawa, dan dengan sengaja justru merebahkan dirinya dengan berbantal paha Rayya. Rayya memang tengah merajut di sofa kamar mereka, membuat topi untuk cucu pertama -yang langsung tiga sekaligus- mereka. “Kan cinta tidak memandang usia, Sayang …” Rayyan mengedip genit setelah berhasil rebah di pangkuan sang istri. Rayya hanya terkekeh dan menghentikan rajutannya. “Heran Abang, Ra … Sepertinya nasib kamu selalu jadi jembatan wanita-wanita hamil yang tengah patah hati karena suami brengseknya, ya?!” R

