"Ada apa?" Suara Elan membisik lirih. Kedua netra itu bertemu dengan tatapan yang sama-sama lekat. Tangan Elan pun terulur untuk membelai pipi wanita itu, lalu menekan kening Ayuna yang mengerut samar. Elan yang sudah berniat hanya ingin tidur sambil memeluk Ayuna akhirnya urung mewujudkan niatnya saat wanita itu kembali membuka ruang pembicaraan di antara mereka. “Kenapa, Ayuna?” Ayuna terlihat menarik napasnya dalam. Perasaannya masih tumpang tindih antara apa yang mereka bahas tadi, namun juga ada rasa ingin mengapresiasi kinerja pria itu. Apalagi mengetahui Elan belum makan malam. “Anyway, balas dendam yang Bapak lakukan untuk saya, termasuk dua kejutan terakhir untuk menghancurkan mereka itu sangat memuaskan saya. Dan melihat track record sebelumnya, Bapak akan meminta i

