“Ayuna pasti baik-baik saja, Sayang. Tenang, ya?” Rayyan membisik lembut untuk menenangkan kemelut di hati sang istri. Tangannya ikut terulur untuk mengusap air mata yang terus membasahi wajah Rayya semenjak menantu mereka memasuki ruang operasi. Rayya justru menatap sang suami dengan tatapan nanar yang memilukan, entah kenapa firasatnya sangat buruk. “Hati Mama buruk sekali rasanya, Pa. Mama tau, seharusnya Mama merapalkan doa dan mencoba tenang dengan keyakinan jika Ayuna dan cucu kita akan baik-baik saja, hanya saja firasat Mama mengatakan sebaliknya, Pa. Dan Mama benar-benar takut sekarang.” Rayya mengungkapkan semua yang ada di hati dengan tarikan napas yang panjang, tangannya juga terulur untuk menekan dadaanya yang terus berdenyut sakit. “Kasihan Ayuna, Pa. Tubuhnya sudah

