Tatapan bengis pria itu tidak melunak sedikitpun meski musuhnya telah benar-benar tumbang dengan memprihatinkan atas serangan yang baru saja dia layangkan. Di saat semua tamu undangan mulai merasa iba dengan nasib wanita muda yang dihina dan diinjak habis-habisan oleh ayahnya sendiri, dan ditertawakan oleh dua orang wanita yang kemungkinan besar adalah simpanan sang ayah, Elan tidak merasakan rasa iba sedikitpun. Seolah hatinya telah mati untuk wanita gila yang terobsesi padanya itu. Tekadnya masih sama, dendamnya masih membara, seolah serangan pertama yang Elan lancarkan dan sukses menghancurkan mereka bukanlah apa-apa dibanding dengan apa yang telah dialami Ayuna dan anak-anaknya. Rintihan kesakitan dan raut frustasi Ayuna dalam hari-hari kemarin masih membekas di benak Elan, baga

