“Mas …” panggil Ayuna dengan nada yang masih terdengar lemas. Ayuna menarik napasnya panjang, dia ingin mengajukan satu pertanyaan, namun rasanya seperti ada batu besar yang mengganjal di tenggorokan saat melihat wajah sendu suaminya yang kini terlihat sangat khawatir padahal Ayuna sendiri merasa jika dirinya baik-baik saja. Sang suami kini memberikan pijatan lembut di kakinya, masih dengan tatapan yang membuat Ayuna justru merasa berdosa karena dia lagi-lagi membebani hati sang suami atas keadaan yang juga tidak Ayuna inginkan. “Iya, Ay? Maaf, ya? Kamu sakit pasti karena kelelahan mengurus anak-anak sendirian, maaf saya sangat sibuk akhir-akhir ini dan tidak bisa mendelegasikan pertemuan bisnis akhir-akhir ini pada yang lain. Maaf, ya, Sayang?” Kata maaf yang kembali diungkapkan

