Atmosfer ruang rapat di lantai dua belas itu terasa begitu panas dan menegangkan, meski AC-nya berfungsi dengan baik. Wajah semua orang tampak begitu frustrasi sebab masalah internal dan eksternal mereka datang bertubi-tubi seperti bom molotov yang terus dilempari oleh musuh ke arah mereka tanpa ampun. Arseno duduk di ujung meja, rahangnya mengeras. Di hadapannya, layar proyektor masih menampilkan grafik merah yang turun begitu tajam. Itu grafik saham Mahendra Group yang merosot drastis hari ini di bursa saham. “Kita menerima surat audit tiga hari yang lalu,” kata Arseno dengan tatapan mata tajam pada setiap mereka yang duduk di ruang meeting itu. Semua orang bungkam, seolah satu kata yang keluar dari lisan mereka menjadi penentu karir mereka selanjutnya. “Yang saya pertanyakan,

