Perlahan rasa kenyang dan nyaman itu membuat matanya terasa berat, usapan lembut di puncak kepalanya seolah menjadi penyempurna untuk dia bisa menikmati tidur siang di pangkuan seorang ibu yang akhirnya bisa dia rasakan. Bibir Rayya tersenyum cerah saat dia mendapati anak perempuannya lelap di pangkuan. “Sayangnya Mama …” bisik Rayya membelai lembut pipi halus Ayuna lalu menunduk untuk mengecup keningnya. Wajahnya yang damai membuat d**a Rayya rasanya menghangat. "Rasanya Mama tidak bisa menahan diri lagi untuk meminta Papa mencari tau tentang hubungan kamu dan keluarga kamu, Nak. Dengan kamu yang memutuskan tinggal di apartemen alih-alih pulang ke rumah, Mama merasa prihatin, Sayang." Rayya menggumam sangat lirih sambil terus membelai pipi Ayuna, menatapnya sendu dengan berbagai

