Dinginnya Poli Anak

1479 Words
​Arina tidak bisa kembali tidur. Pikirannya telanjur kacau, berputar-putar seperti baling-baling pesawat yang membawa suaminya pergi ke arah yang tidak ia ketahui secara pasti. Alih-alih merenung di rumah yang semakin terasa seperti museum kenangan hampa, ia memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit lebih awal. RS Medika Utama masih terlihat sangat tenang di jam lima pagi. Lampu-lampu koridor yang berpendar putih kebiruan menciptakan suasana steril yang mencekam, namun bagi Arina, bau antiseptik yang menyengat dan lantai marmer yang dingin ini adalah tempat paling jujur yang pernah ia kenal. Di sini, tidak ada kepura-puraan. Sakit adalah sakit, dan hidup adalah perjuangan yang nyata. ​Ia melangkah menuju bangsal pediatri dengan punggung tegak, meski hatinya remuk redam. Di ruang ganti, ia menanggalkan pakaian tidurnya dan mengenakan jas putih kebanggaannya. Saat mengancingkan jas itu, Arina merasa seolah sedang mengenakan baju zirah. Stetoskop yang melingkar di lehernya terasa seperti beban yang memberikan kepastian, sebuah jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam badai rumah tangga. Di sini, ia adalah Dokter Arina, wanita yang memegang kendali atas nyawa-nyawa kecil, sosok yang dihormati dan disegani, bukan Arina yang dianggap sebagai investasi gagal di mata mertuanya atau istri yang ditinggalkan di ambang pintu. ​"Dokter Arina? Pagi sekali sudah sampai?" sapa Suster Maya yang sedang mengecek grafik pasien di meja perawat. Matanya membelalak kaget melihat sang dokter spesialis sudah berdiri di sana saat fajar bahkan belum menyingsing sempurna. ​"Iya, Suster. Aku sedang tidak bisa tidur, jadi lebih baik ke sini," jawab Arina sambil meraih map rekam medis dengan gerakan mekanis. "Ada pasien baru semalam?" ​"Ada satu, Dok. Bayi prematur di kamar inkubator nomor empat. Beratnya hanya satu koma dua kilogram, lahir di usia kehamilan tiga puluh minggu. Ayahnya sudah menunggu di depan ruang NICU sejak semalam. Wajahnya tampak sangat hancur, dia bahkan tidak mau beranjak untuk sekadar minum." ​Arina segera melangkah menuju ruang NICU. Melalui kaca transparan yang memisahkan dunia luar yang bising dengan dunia dalam yang sunyi dan rapuh, ia melihat seorang pria muda duduk di bangku tunggu dengan kepala tertunduk dalam di antara kedua lututnya. Pakaiannya berantakan, kemejanya kusut masai, jelas sekali ia melewati malam yang panjang dengan kecemasan yang luar biasa. Saat menyadari kehadiran Arina, pria itu langsung berdiri dengan wajah penuh harapan yang menyakitkan untuk dilihat. ​"Dokter ... bagaimana keadaan anak saya? Tolong, katakan kalau dia akan baik-baik saja," suaranya bergetar hebat, pecah oleh tangis yang ditahan. ​Arina memasuki ruang steril dan mendekati bayi mungil di dalam inkubator tersebut. Begitu kecil, begitu rapuh, dengan berbagai selang mikroskopis menempel di tubuhnya yang masih transparan kemerahan. Detak jantung bayi itu terdengar lewat monitor, ritme kecil yang berjuang keras melawan maut. ​"Kami sedang melakukan yang terbaik, Pak. Kondisinya stabil, meski paru-parunya masih sangat lemah dan butuh bantuan pernapasan intensif. Anda harus kuat, karena bayi Anda bisa merasakan energi ayahnya. Dia butuh doa dan kekuatan dari Anda," ucap Arina dengan nada tenang yang profesional, namun di dalam hatinya, ia merasakan empati yang mendalam. ​Pria itu mengangguk, air mata jatuh tanpa suara di pipinya yang kasar. "Saya akan memberikan apa saja, Dok. Asal dia selamat. Harta, nyawa saya, apa pun. Dia adalah segalanya bagi saya. Dia satu-satunya alasan saya ingin pulang setiap hari." ​Arina tertegun mendengar kalimat itu. "Satu-satunya alasan saya ingin pulang." Betapa berartinya kehadiran seorang ayah bagi anak yang bahkan belum bisa membuka mata. Ia membayangkan Damar. Jika suatu saat mereka punya anak, apakah Damar akan berdiri di sana dengan kecemasan yang sama? Ataukah Damar akan tetap memprioritaskan jadwal terbangnya, mengejar jam terbang di angkasa, dan menyerahkan segala urusan rumah sakit pada Arina dengan alasan profesionalitas? ​Rasa sepi kembali menghantamnya di tengah hiruk-pikuk rumah sakit yang mulai ramai oleh pergantian sif perawat. Di saat ia berjuang mati-matian untuk nyawa anak orang lain, rahimnya sendiri terasa seperti gurun yang hampa. Ia masuk ke ruangannya, duduk di balik meja kerja yang dipenuhi tumpukan jurnal medis dan buku-buku anatomi. Ponselnya bergetar di atas meja, memecah kesunyian ruangan. Sebuah pesan singkat dari Damar muncul di layar. ​[I miss you, Sayang. Baru saja landing di Singapura. Cuaca sedikit buruk tapi semua terkendali. Can’t wait to see you soon. Love you.] ​Arina menatap pesan itu dengan tatapan kosong. Seharusnya kata-kata itu menjadi obat penawar bagi hatinya yang lelah, namun entah mengapa, bayangan Damar yang tersenyum tulus saat mengetik pesan itu terasa seperti hologram yang tidak nyata. Di balik kata-kata manis itu, ada kekosongan yang tidak bisa ia jelaskan secara medis. ​Sementara itu, di belahan bumi lain, di dalam ruang kokpit pesawat yang baru saja terparkir rapi di apron Bandara Changi, suasana sama sekali tidak mencerminkan pesan manis yang baru saja dikirimkan. Mesin pesawat baru saja dimatikan, meninggalkan suara desing pelan yang perlahan menghilang. Di dalam ruang sempit yang dipenuhi panel instrumen canggih itu, Damar duduk di kursi kapten dengan sikap yang jauh dari kata lelah. ​Di sampingnya, Amanda, sang pramugari junior dengan seragam ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya secara provokatif, sedang merapikan riasan wajahnya di depan cermin kecil. Ia memulas bibirnya dengan gincu merah menyala, warna yang sama sekali tidak sesuai dengan regulasi resmi maskapai namun selalu berhasil membakar gairah Damar. ​"Captain, pesan untuk 'istri sah' sudah terkirim?" tanya Amanda dengan nada menyindir yang manja. Ia melirik Damar dari sudut matanya, senyum tipis yang nakal tersungging di bibirnya. ​Damar terkekeh, memasukkan ponselnya ke dalam saku seragam dengan gerakan santai. "Sudah terkirim dengan sukses. Standar operasional prosedur, Manda. Kita butuh navigasi yang aman tanpa gangguan radar rumah sakit agar pendaratan kita di Bali nanti malam tidak mengalami turbulensi rumah tangga." ​Amanda tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti lonceng yang menggoda di telinga Damar. Ia mendekat, membiarkan aroma parfum bunga lily yang manis dan tajam memenuhi rongga hidung Damar. "Kamu nakal ya, Captain. Tapi itu yang membuatku tidak bisa lepas darimu. Jadi, hadiah apa yang akan kamu belikan untuk dokter pintarmu itu kali ini? Supaya dia tetap diam dan tidak curiga kalau kita akan menghabiskan malam di villa pribadi yang sama?" ​"Apa pun yang dia mau. Berlian, tas kulit hewan langka, selama itu bisa membuatnya sibuk dengan dunianya sendiri dan tidak menanyakan jadwal terbangku," jawab Damar sambil mengedipkan sebelah matanya. ​Tanpa peringatan, Damar menarik pinggang Amanda hingga wanita itu jatuh ke pangkuannya. Amanda memekik kecil, namun tangannya segera melingkar di leher Damar. Di dalam ruang kokpit yang tertutup rapat dari pandangan kru kabin lainnya, Damar menatap Amanda dengan tatapan lapar yang tidak pernah ia tunjukkan pada Arina. ​Tangan Damar yang biasanya lihai mengendalikan kemudi pesawat, kini bergerak liar mengusap paha Amanda yang terekspos karena rok seragamnya yang sengaja ditarik naik. Kulit mulus itu terasa hangat di bawah telapak tangan Damar. Tidak berhenti di situ, Damar meremas kedua bukit kembar Amanda dengan kasar, menyalurkan gairah yang selama ini ia tahan sejak lepas landas dari Jakarta. Amanda mendesah pelan, kepalanya tertengadah saat bibir Damar mulai menyerang ceruk lehernya dengan ciuman-ciuman panas yang menuntut. ​"Ahhh, Captain ... tahan," bisik Amanda dengan suara serak, meski tubuhnya bergetar hebat menerima perlakuan Damar. Ia menahan tangan Damar yang mencoba masuk lebih dalam ke balik kemejanya. "Jangan di sini. Masih ada kru di luar. Tahan sampai kita tiba di Bali, oke? Aku akan memberikan semuanya di sana." ​Damar menggeram rendah, memberikan satu remasan kuat terakhir sebelum akhirnya melepaskan Amanda dengan berat hati. Ia mengatur napasnya yang memburu, mencoba mengembalikan wibawa kaptennya. Amanda berdiri, merapikan rok dan kemejanya yang sedikit berantakan dengan senyum kemenangan. Ia memberikan satu kedipan nakal sebelum berbalik menuju pintu kokpit. ​Saat Amanda melangkah pergi dengan pinggul yang bergoyang sengaja di depan matanya, Damar tidak tahan untuk tidak mengulurkan tangan. Plak! Ia menampar b****g sintal Amanda dengan cukup keras. ​"Captain!" Amanda berbalik, pura-pura marah namun matanya berkilat penuh gairah. ​"Sampai jumpa di Bali, Sayang," ujar Damar dengan suara rendah yang penuh janji. ​Amanda tertawa pelan dan melangkah keluar, meninggalkan aroma parfum manis yang kini bercampur dengan bau pengkhianatan di dalam kokpit itu. Damar kembali duduk, memakai topi kaptennya dengan bangga, seolah ia baru saja menyelesaikan misi paling mulia dalam hidupnya. ​Sementara itu, di ruangannya yang dingin di RS Medika Utama, Arina meletakkan ponselnya dengan helaan napas panjang yang terasa sangat berat. Ia tidak tahu mengapa, namun setiap kali ia membaca pesan "I love you" dari Damar, ia merasa seperti sedang membaca resep obat yang salah. Ada sesuatu yang tidak sinkron, sesuatu yang gagal ia diagnosa dengan logikanya sebagai dokter. ​Ia kembali menekuni rekam medis pasien bayi prematur itu, mencoba menenggelamkan kesepian dan firasat buruknya dalam tumpukan tugas medis yang tidak ada habisnya. Ia tidak menyadari bahwa di saat ia sedang mendoakan kesembuhan sebuah nyawa kecil, suaminya justru sedang merayakan penghancuran janji suci mereka di bawah langit Singapura yang cerah. Di dalam kamar spesialis anak yang sunyi itu, Arina terus bekerja, tanpa menyadari bahwa pesan manis di ponselnya hanyalah bagian dari skenario penerbangan penuh kebohongan yang dirancang oleh pria yang ia panggil "suami".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD