Pintu apartemen dibuka dengan tergesa. Galang masuk sambil menarik tangan Bening yang masih bingung dengan sikap suaminya yang tiba-tiba agresif. "Mas Galang, pelan-pelan! Aku bisa jalan sendiri—" Belum selesai bicara, Galang sudah membanting pintu dengan kaki, lalu menarik Bening ke pelukannya dan langsung mencium bibirnya—rakus, penuh ‘hasrat yang sudah lama ditahan. "Mmph!" Bening terkejut, matanya membulat. Tapi Galang tidak peduli. Tangannya melingkar di pinggang Bening, menariknya semakin dekat hingga tidak ada jarak sama sekali. Ciumannya dalam, intens, seolah takut besok Bening akan menghilang dan tidak pernah kembali. Bening akhirnya menutup mata, membalas ciuman itu dengan canggung—masih belum terbiasa dengan Galang yang seperti ini. Galang bahkan sempat menggigit bibir baw

