Bening duduk di bangku taman dengan coat camel yang membungkus tubuhnya, tangan memegang secangkir matcha latte hangat yang dibeli Galang tadi. Di sampingnya, Galang duduk santai dengan satu tangan melingkar di sandaran bangku—dekat dengan bahu Bening tapi tidak menyentuh, memberi ruang tapi tetap protektif. Di depan mereka, ratusan wisatawan berlalu-lalang—ada yang berfoto di bawah pohon sakura, ada yang duduk piknik di rumput, ada pasangan yang berjalan bergandengan tangan, ada keluarga dengan anak-anak yang berlarian. "Maaf ya, Mas. Aku nggak bisa jalan jauh." Bening bergumam sambil menyeruput matcha latte-nya. "Nggak apa-apa. Gini juga enak kok. Duduk santai sambil liat orang-orang." Galang menjawab sambil tersenyum, tangannya mengusap puncak kepala Bening dengan sayang. "Lagian, ba

