Tidak pernah terpikirkan oleh bahwa Regarta akan berlutut di depanku di tengah ribuan tamu undangan yang sedang menatap ke arah kami. Laki-laki yang sering aku sebut dengan Berandalan ini, mengutarakan perasaannya padaku seperti serang pangeran yang berlutut melamar seorang tuan putri. Aku hanya berharap bisa melakukan pernikahan menggunakan gaun-gaun indah yang seperti putri raja, tapi Regarta memberiku lebih dari itu. Ketika kakiku bergerak mengikuti irama dansanya, sambil menikmati suara hujan yang terdengar romantis. Semua kenangan kami seperti bermunculan di kepalaku. Apalagi ketika kepalaku menengadah dan lagit-langit di atas lantai dansa berubah menjadi gambar awan yang di warnai dengan gambar titik-titik yang bergerak menyerupai burung. Aku rasanya ingin menangis mengingat momen

