Pisah

2815 Words

Pagi itu matahari masuk perlahan lewat celah tirai. Rumah masih sunyi. Tidak ada suara sendok garpu, tidak ada aroma kopi, tidak ada gumaman obrolan hangat seperti biasanya. Tadi tengah malam Dharren masuk ke rumah pukul satu pagi. Sepi. Dingin. Ia masuk ke kamar dan melihat Disti tidur membelakangi pintu. Ia mendekat pelan, menatap punggung itu dengan ragu. Tapi ia tahu, punggung itu bukan tidur, tapi menjauh. Ia hanya duduk di tepi ranjang, menghela napas panjang, lalu merebahkan diri perlahan. Tak ada satu pun kata malam itu. Ia sudah terlalu lelas, kepalanya juga sakit. Harusnya ia sudah tidur dari dua setengah jam yang lalu. Tapi ranjau di rumahnya ini seperti terinjak dan meledak. Dharren menghela nafas pendek lalu mencoba tidur, dengan pikiran kalut. Dan paginya, Disti sudah ban

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD