Disti pulang dengan kepala penuh pikiran yang berputar seperti badai, dan seperti biasa, pikiran negatif yang mendominasi. Kata - kata dari sahabat - sahabatnya siang tadi masih menempel di telinga tentang risiko terapi hormon, cerita orang yang gagal, tubuh yang rusak, bahkan rumah tangga yang retak. Ia mencoba mengabaikan semua itu, tapi semakin diabaikan, justru semakin nyaring. Pertemuan yang seharusnya menghangatkan hati malah membuat mood-nya berantakan. Malam ini, rumah yang biasanya terasa hangat malah sepi dan dingin. Lampu ruang tengah temaram, suara televisi menjadi satu - satunya penghuni ruang itu. Disti duduk di sofa, pandangannya ke arah layar, tapi pikirannya ke mana - mana. Sementara itu, Dharren baru pulang lewat pukul sepuluh malam jauh lebih larut dari biasanya. Tadi

