Disti sudah mulai kembali menjalani kontrol rutin ke dokter Fajar. Namun, hasil pemeriksaan hari itu kembali membuat hatinya berat. Belum ada sel telur yang cukup matang untuk dibuahi. Hasil itu seakan mengulang kabar yang sama dari kunjungan - kunjungan sebelumnya. Bedanya, kali ini raut wajah Disti tidak seputih kertas seperti dulu setiap kali mendengar kabar buruk. Mungkin karena perjalanan panjang yang sudah ia lalui, penuh fase, harapan, dan kegagalan membuatnya lebih bisa mengendalikan ekspresi. Tetap saja, di hatinya ada kecewa yang dalam. Tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri dan juga suaminya, ia harus terus semangat. "Saya ada saran buat Mbak Disti," ujar dokter Fajar sambil melirik hasil pemeriksaan di tangannya. "Bagaimana kalau kita langsung masuk program IVF saja, Mba

