Suasana pagi di rumah keluarga Pak Windra terasa dingin, lebih dingin dari biasanya. Bukan karena hujan turun semalaman, bukan juga karena AC yang lupa dimatikan. Tapi karena sesuatu yang tidak kasat mata, sebuah kekosongan yang menggantung di udara. Seolah - olah ada sekat - sekat tak terlihat yang membatasi jarak antar penghuninya. Rumah itu tak lagi jadi tempat untuk pulang dengan hati lega. Yasmin duduk di ruang tengah, diam. Tak bersuara. Ia sudah bangun sejak Subuh, membuat teh untuk dirinya sendiri karena tak ada lagi yang minta dibuatkan. Dulu, pagi - paginya selalu sibuk. Membuatkan kopi untuk suaminya, mengecek jadwal sekolah Adel, memastikan semuanya rapi dan sesuai. Tapi sekarang, semua seperti berjalan sendiri - sendiri. Ia duduk dengan punggung tegak, mengenakan daster ruma

