Dhannis menuruni tangga dengan langkah ringan. Aroma roti panggang dan kopi dari ruang makan membuat perutnya mengeluarkan protes kecil, meski niatnya pagi itu bukan untuk makan di rumah. Ia mengenakan kemeja linen biru pucat yang dilipat rapi di ujung lengan, celana chino krem, dan sepatu sneakers putih yang bersih. Sudah rapi seperti akan ke rumah calon mertua dan memang benar. Pagi itu ia janji sarapan lagi bersama Ina, seperti kemarin. Kegiatan sederhana yang mulai jadi rutinitas tak tertulis bagi mereka sejak Ina di Jakarta. Saat Dhannis masuk ke ruang makan, niatnya hanya ingin pamit pada Eyang Nino dan Yangti Sarah. Namun, ia sedikit lupa satu hal, Mas Dharren juga menginap di rumah Eyang semalam. Dan pagi itu, pria jangkung dengan rambut klimis dan wajah setengah mengantuk itu sud

