Keesokan paginya, saat mentari baru mulai mengintip lewat celah gorden apartemen, suasana kamar masih sunyi. Hanya ada suara lembut dari AC dan dengkuran halus yang bersahutan dengan denyut pelan detak jam dinding. Ina membuka matanya perlahan, butuh waktu beberapa detik untuk mengingat di mana ia berada. Sinar pagi membuat matanya sedikit menyipit, dan rambutnya yang awut - awutan membuatnya tampak seperti tokoh utama dalam film romantis yang baru bangun tidur, minus make up dan filter. Tapi pagi ini ada sesuatu yang berbeda. Ringan. Seperti satu beban tak kasat mata yang selama ini menempel di dadanya, perlahan - lahan memudar. Ia duduk di atas tempat tidur, mengucek matanya yang masih agak bengkak karena semalam sempat menangis dan tertawa bersama Dhannis. Ia menoleh, dan di sudut rua

