Ina tidak menjawab pertanyaan Dhannis, tapi wajahnya jauh lebih ramah, tidak terlihat emosi seperti saat mereka telponan beberapa hari lalu. Mereka keluar dari lift dan berjalan menyusuri koridor menuju unit apartemen Ina. Bunyi lembut langkah kaki mereka bergema di lorong yang sepi. Sesampainya di depan pintu, Ina menempelkan kartu akses dan membuka pintu unitnya. Dhannis mengikutinya masuk, tapi tidak melangkah jauh. Dhannis berdiri diam di dekat pintu masuk. Wajahnya terlihat lelah, tapi bukan karena penerbangan Jakarta–Singapura yang hanya kurang dua jam itu, tapi karena pergulatan batin yang tak berhenti sejak hari mereka bertengkar dua hari yang lalu. Ia hanya berdiri di sana, diam, menatap Ina seperti sedang memastikan bahwa perempuan itu benar - benar di hadapannya. Kopernya masi

