Siang itu, gedung megah PT. Angkasa Putra mendadak berubah seperti arena kepanikan. Lantai 10, yang biasanya sunyi hanya berisi beberapa staf eksekutif, kini riuh rendah oleh suara teriakan, langkah berlarian, dan tangisan. Aroma darah yang pekat masih menguar dari ruang direktur, meninggalkan jejak tragedi yang baru saja terjadi. Ambulans telah tiba, sirenenya meraung keras memecah keheningan siang, disusul mobil patroli polisi yang berhenti tepat di depan lobi utama. Security tampak kalang kabut, beberapa berlari menuju lift, sebagian lainnya berjaga di depan gedung. Laporan singkat sudah masuk ke kepolisian—ada penusukan, pelaku seorang wanita paruh baya, korban seorang direktur utama. Di lorong lantai delapan, Kania dan Vivi baru saja selesai dari ruang rapat kecil ketika suara gaduh

