Lorong sunyi di lantai sepuluh seakan bergetar oleh suara lirih Ian yang terdengar dari balik pintu ruang pribadi. Suara itu rapuh, memanggil penuh rasa takut, “Mama … Papa ….” Adnan sontak menoleh ke arah pintu, jantungnya berdegup kencang. Di tengah ketegangan, ia segera merespons, suaranya lembut tapi tegas, “Papa dan Mama ada di sini, Nak. Jangan takut ….” Kata-kata itu membuat udara di ruangan seakan berhenti sesaat. Rima, yang masih terengah oleh amarahnya, terkesiap mendengar jawaban spontan itu. Jantungnya berdentum lebih keras. Baginya, ucapan itu adalah pengakuan yang paling menusuk hati—bahwa lelaki yang dianggap menantu terbaik, lelaki yang seharusnya hanya menjadi milik Pricilla, ternyata dengan lantang mengakui perempuan itu—Indira—sebagai “Mama” dari anaknya. Mata Rima m

