Beberapa hari kemudian .... “Aku kangen banget sama Surabaya,” ucap Indira pelan, menatap jendela kamar yang menghadap ke arah jalan Basuki Rahmat. Sinar matahari pagi menembus tirai putih, memantul di rambut hitamnya yang kini tergerai rapi. Perutnya yang membesar tampak jelas di balik dress longgar warna pastel. Adnan menatapnya lembut dari balik meja kerja kecil di pojok kamar. “Ya, sudah hampir lima bulan Sayang nggak ke sini, kan? Setelah kita pindah ke Jakarta, kamu nggak pernah lagi balik buat lama.” Indira mengangguk. “Iya. Rasanya aneh, tapi hangat juga. Banyak kenangan di kota ini, Mas?” Adnan tersenyum tipis. “Kalau gitu, hari ini kamu bebas. Aku harus ke kantor buat meeting sama direksi jam sebelas. Tapi kamu nggak usah ikut. Ketemu aja sama teman-teman lamamu. Aku tahu

